Upaya mempercepat penurunan angka kemiskinan di Gorontalo terus didorong melalui pendekatan baru yang lebih terintegrasi dan berbasis potensi lokal. Salah satu strategi yang kini mulai dimatangkan adalah pengembangan industri peternakan ayam yang melibatkan masyarakat secara langsung, terutama kelompok ekonomi terbawah, agar mampu menciptakan sumber pendapatan berkelanjutan.
Skema yang ditawarkan menitikberatkan pada kemitraan antara pemerintah daerah, perusahaan, dan peternak lokal. Dalam rancangan tersebut, porsi pengelolaan justru lebih besar diberikan kepada masyarakat. Pemerintah kabupaten diharapkan menjadi motor penggerak dengan mengelola hingga 60 persen aktivitas produksi bersama warga, sementara perusahaan hanya mengambil sekitar 30 hingga 40 persen. Model ini diyakini mampu menciptakan ekosistem ekonomi baru yang inklusif dan berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat.
Selain itu, program ini diarahkan untuk menyasar kelompok masyarakat pada desil terbawah. Kepemilikan ternak dalam skala kecil dinilai sudah cukup untuk memberikan penghasilan rutin, sehingga secara bertahap dapat menekan angka kemiskinan yang saat ini berada di kisaran 15 persen.
Gagasan hilirisasi ini juga tidak lepas dari potensi besar produksi jagung Gorontalo yang mencapai 1,5 juta ton per tahun. Selama ini, komoditas tersebut lebih banyak dijual dalam bentuk mentah ke luar daerah. Melalui program ini, jagung akan diolah menjadi pakan ternak di dalam daerah, sehingga menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi bagi perekonomian lokal.
Momentum penguatan program semakin terbuka setelah adanya inisiatif dari pemerintah kabupaten di sektor peternakan yang kemudian mendapat dukungan dari pemerintah pusat. Hasilnya, Gorontalo ditetapkan sebagai salah satu dari 12 provinsi yang menjadi lokasi pengembangan hilirisasi ayam terintegrasi di Indonesia.
Komitmen ini kembali ditegaskan oleh Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, saat menghadiri Rapat Paripurna Istimewa DPRD dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-19 Kabupaten Gorontalo Utara, Minggu (26/4/2026). Ia menyampaikan bahwa pembahasan lebih lanjut terkait skema bisnis akan segera dilakukan bersama PT Berdikari dan para bupati pada Rabu mendatang.
Menurut Gusnar, hilirisasi ayam terintegrasi bukan sekadar program ekonomi, tetapi menjadi penanda transformasi pembangunan daerah. Ia optimistis, melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat, Gorontalo mampu memasuki babak baru pembangunan yang lebih mandiri dan berkelanjutan di tengah tekanan fiskal yang semakin menantang.
















Leave a Reply