Gorontalo.24/03/2026. Membaca pemberitaan oleh redaksi beritaa1, yang menggambarkan hubungan Wali Kota Gorontalo Adhan Dambea dan Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail sebagai “perang dingin” yang bahkan tak mampu dicairkan oleh momen sakral Idul Fitri, menuai tanggapan kritis. Padahal pilihan tempat sholat Id antara dua pemimpin daerah boleh jadi memiliki alasan teknis maupun protokoler yang tidak diketahui khalayak luas. Menafsirkannya secara sepihak sebagai sinyal permusuhan adalah langkah jurnalistik yang berisiko menyesatkan opini masyarakat.
Adalah Anggi Aprilianto, Pegiat Media Sosial yang turut menyayangkan berita tersebut. “Sekelas beritaa1 menggunakan framing seperti bara, perang dingin, bahkan yang berlebihan menggunakan analogi konflik geopolitik global untuk menggambarkan dinamika antara dua pejabat daerah, maka yang terjadi bukan lagi pelaporan fakta, melainkan konstruksi narasi yang bisa memperkeruh suasana,” ketus Anggi.
Dirinya bahkan menyebutkan bahwa media tersebut kadang memberikan pemberitaan tanpa verifikasi yang utuh. “Contoh, pada saat peran saka nasional, gubernur dituduh setengah hati dalam mendukung kegiatan pramuka tersebut, hanya karena persoalan teknis keterlambatan pekerjaan MCK. Seolah tidak ada pilihan kata lain yang bisa diberitakan. Padahal dukungan gubernur untuk agenda nasional tersebut sudah lebih dari cukup, di tengah efisiensi,” urainya.
Menurutnya, media semestinya memverifikasi terlebih dahulu apakah memang ada ketegangan nyata sebelum menjadikannya konsumsi publik yang memicu spekulasi liar. “Apalagi momentum Lebaran sejatinya adalah saat yang tepat bagi media untuk menghadirkan narasi perdamaian, rekonsiliasi, dan harapan. Alih-alih memperkuat pesan kesatuan yang selaras dengan semangat Idul Fitri, pemberitaan semacam ini justru memilih sensasi konflik sebagai komoditas,” tambahnya
Kalaupun ada dinamika antar pemimpin, maka ada kanal yang menyediakan penyelesaiannya. Cukup sudah drama Adhan vs Gusnar yang digoreng media. Waktunya liputan yang dorong kolaborasi Pemkot-Pemprov demi kebaikan bersama. Stop provokasi, mulai jurnalisme yang bermanfaat.












Leave a Reply