GORONTALO –16/06/2026. Komitmen Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail untuk menjadikan Pekan Nasional (PENAS) XVII Petani dan Nelayan sebagai ajang promosi budaya daerah terus ditunjukkan melalui berbagai persiapan yang dilakukan Pemerintah Provinsi Gorontalo. Salah satunya dengan menyiapkan 5.000 unit polopalo sebagai suvenir khas bagi para peserta yang akan datang dari seluruh Indonesia.
Menjelang pembukaan PENAS XVII yang akan berlangsung pada 20–25 Juni 2026, progres pembuatan alat musik tradisional Gorontalo tersebut telah mencapai 82,74 persen atau sebanyak 4.137 unit. Program ini melibatkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemprov Gorontalo dengan koordinasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Gorontalo, Sudarman Samad, menjelaskan bahwa ribuan polopalo telah selesai dikerjakan dan sisanya sedang dalam tahap penyempurnaan.
“Polo-palo yang sudah masuk di Dikbud sebanyak 2.391 unit. Ditambah yang telah selesai di OPD sebanyak 1.746 unit, sehingga total yang sudah selesai mencapai 4.137 unit. Sisanya masih dalam berbagai tahapan pengerjaan dan kami optimistis seluruh target akan selesai tepat waktu,” ujarnya.

Langkah ini menjadi bagian dari arahan Gubernur Gusnar Ismail agar PENAS XVII tidak hanya sukses sebagai agenda nasional sektor pertanian dan perikanan, tetapi juga menjadi momentum memperkenalkan identitas budaya Gorontalo kepada para tamu dari seluruh penjuru Nusantara.
Pembuatan polopalo turut melibatkan 27 pengrajin lokal yang berasal dari Kecamatan Bonepantai, Suwawa Selatan, dan Tapa. Keterlibatan para pengrajin tersebut tidak hanya mempercepat proses produksi, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekaligus melestarikan warisan budaya daerah.
Polopalo sendiri merupakan alat musik tradisional khas Gorontalo yang terbuat dari bambu dan berbentuk menyerupai garpu tala. Alat musik golongan idiofon ini menghasilkan bunyi melalui getaran bambu ketika dipukul pada bagian lutut pemainnya. Pada masa lalu, polopalo kerap dimainkan oleh para petani dan peternak sebagai sarana hiburan saat beraktivitas di ladang maupun di area penggembalaan.
Seiring perkembangan zaman, polopalo kini dimainkan secara berkelompok dalam bentuk ansambel musik tradisional dan menjadi salah satu ikon budaya Gorontalo. Pengakuan terhadap nilai budayanya semakin kuat setelah pemerintah pusat menetapkannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada tahun 2015.
Melalui penyediaan ribuan polopalo sebagai suvenir PENAS XVII, Pemerintah Provinsi Gorontalo di bawah kepemimpinan Gusnar Ismail menunjukkan keseriusannya dalam mengangkat kearifan lokal ke panggung nasional. Diharapkan setiap peserta yang membawa pulang polopalo juga membawa cerita tentang kekayaan budaya Gorontalo ke daerah masing-masing.














Leave a Reply