Lebih Memilih Menggali Bumi daripada Mengulurkan Tangan, meminta – Minta.

Oleh : Lion Hidjun.,S.Pd.,SH.,MH.
Catatan kemanusian dari perut bumi bonebolango

Di tengah kerasnya medan tambang tradisional Bone Bolango, saya bertemu dengan seorang penyandang disabilitas yang mengubah cara saya memandang kehidupan.

Lengan kanannya telah tiada. Namun yang hilang hanyalah anggota tubuhnya, bukan semangatnya. Bukan pula harga dirinya.
Setiap hari ia menapaki jalan berbatu, mendaki lereng yang curam, dan bekerja di tengah risiko yang bahkan orang dengan fisik sempurna pun belum tentu sanggup menjalaninya. Ia tidak datang ke tambang untuk mengejar kekayaan. Ia datang untuk mempertahankan kehidupan.

Ketika saya bertanya mengapa ia memilih pekerjaan seberat itu, jawabannya menghentikan seluruh prasangka saya.

“Daripada saya meminta-minta di kampung, menjadi beban pemerintah atau keluarga, lebih baik saya bekerja di tambang. Saya bukan mau kaya. Saya hanya ingin bertanggung jawab kepada keluarga.”

Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung makna yang jauh lebih besar daripada ribuan kata motivasi.
Di tengah tubuh yang tidak lagi utuh, saya justru melihat manusia yang utuh. Utuh dalam tanggung jawab, utuh dalam keberanian, dan utuh dalam menjaga martabatnya.

Kisah ini mengajarkan bahwa tambang tradisional bukan hanya tentang emas yang digali dari perut bumi. Di sana ada manusia-manusia yang sedang menggali harapan, mempertahankan kehormatan, dan berjuang agar keluarganya tetap hidup.
Mereka tidak meminta belas kasihan.
Mereka hanya meminta kesempatan untuk bekerja.

Sebab bagi sebagian orang, kekayaan adalah pilihan. Tetapi bagi lelaki itu, menambang adalah satu-satunya cara bertahan hidup

Sudah saatnya kita berhenti melihat tambang tradisional hanya melalui lensa stigma dan prasangka. ada ribuan rakyat kecil yang setiap hari mempertaruhkan tenaga, bahkan nyawanya, bukan untuk mengejar kemewahan, melainkan untuk mempertahankan hidup dengan bermartabat. Jangan biarkan segelintir persoalan menutup mata kita terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang tumbuh di sana. Sebab di balik setiap bongkahan batu yang mereka pecahkan, ada doa seorang ayah, ada harapan seorang ibu, ada masa depan anak-anak yang sedang diperjuangkan, dan ada martabat manusia yang tetap berdiri tegak meski diterpa kerasnya kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *