Marwah adatnya di pertanyakan; walikota Gorontalo alpa dalam tradisi silaturahmi idul Fitri.

Kota Gorontalo. Sebagai Khalifah di bumi hulandalo, walikota Gorontalo nampaknya tidak menghargai tradisi dan adat istiadat di Gorontalo yang telah lama hidup dan berkembang. Ini nampak pada saat Suasana silaturahmi Idulfitri 1447 H di Rumah Jabatan Gubernur Gusnar Ismail pada Minggu (22/3/2026).

Sejumlah kepala daerah kabupaten hadir, di antaranya Sofyan Puhi, Ismet Mile, Rum Pagau, Thariq Modanggu, dan Saipul Mbuinga. Kehadiran mereka memperlihatkan soliditas dan tradisi koordinasi yang lazim dalam momen Lebaran.

Silaturahmi Idulfitri antar pimpinan daerah di Gorontalo adalah kearifan lokal yang memjadi ruang pertemuan yang mengikat nilai adat, penghormatan, dan harmoni antarpemimpin. Dalam adat Gorontalo yang menjunjung tinggi prinsip “adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan Kitabullah,” kehadiran pemimpin menjadi simbol penghormatan terhadap adat istiadat Gorontalo.

Semestinya walikota hadir untuk menegakan Marwah adat Gorontalo. Ketidak hadiran walikota Gorontalo dalam moment sakral idul Fitri menjadi pertanyaan besar, apakah ia benar benar tahu dan menghormati tradisi Gorontalo. Jika Khalifa mengabaikan adat Gorontalo maka generasi berikutnya pasti tidak peduli lagi dengan adat Gorontalo yang selanjutnya akan tergerus oleh zaman.

Gorontalo dikenal sebagai daerah yang kuat memegang adat istiadat. Dalam konteks ini, ketidakhadiran kepala daerah di momentum silaturahmi resmi dapat dipandang sebagai bentuk kurangnya penghormatan terhadap nilai adat yang telah lama dijaga bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *